Rabu, 16 Maret 2011

TATACARA DAN SIKAP YANG BENAR DALAM MELAKSANAKAN PUJA BHAKTI



Sebelum mulai membahas topik diatas, kami akan mengemukakan komentar, yaitu :
Dari komentator ternama, Prof.Mukti Ali: pernah menuliskan satu buku yang menerangkan bahwa sesungguhnya Buddha Dharma dan agama itu berbeda. Letak perbedaan ya adalah, apapun juga yang namanya agama termasuk agama Buddha, berangkar dari tradisi dan kebudayaan, berbahasa dogma, kadang-kadang berlaku lokal. Sedangkan kalau Buddha Dharma, itu berangkat dari pikiran jernih, akal sehat, dan pengalaman lugas yang universal, sehingga di dalam Buddha Dharma, bebas berpikir, akal berfungsi, dan bisa ditembus oleh pribadi-pribadi secara total.
”Budaya memuja, tradisi sesaji, kepulan asap putih yang menyesakkan, bergelantungan asesoris sebagai simbolistis, kata manis mengandung misteri abadi, menghibur manusia yang ketakutan akan kegagalan dan segala kengerian hidup, merupakan kerangka dasar suatu agama, ”kata Friedrick Nietzche dalam bukunya ”The Will ti power” kehendak untuk berkuasa. Kekuatan mantra terletak bukan pada suara ucapannya melainkan hati batin si pengucap.
Dari dua sitiran tersebut diterangkan bahwa yang namanya agama-agama apapun juga berangkat di warnai oleh tradisi dan kebudayaan, termasuk agama Buddha. Namun kalau berbicara tentang Buddha Dharma; itu lepas dari tradisi dan kebudayaan karena Buddha Dharma ini berangkat dari pikiran jernih, akal sehat dan pengalaman lugas yang universal. Karena bersifa universal, ia berlaku di mana saja, kapan saja, untuk siapa saja, sejak dahulu, sekarang dan yang akan datang, selalu sama. Karena kalau Buddha Dharma, hukumnya tidak dibuat manusia, tetapi hukup yang tanpa awal datanpa akhir (yang mutlak). Pilar-pilar Buddha Dharma adalah : Triratna, catur Ariya Sacca, Ariya Atthangika Magga, Tilakkhana, Kamma & Punabbhava, Paticca samuppada dan Nibbana. Tetapi kalau agama, pilar-pilarnya adalah tradisi dan kebudayaan.

Karena itu usah terkejut bila kita berbicara tentang tradisi & kebudayaan (agama), kita harus berhadapan dengan citra, warna, rasa, tradisi, dan kebudayaan yang berbeda-beda. Dalam satu agama, satu pedoman kitab suci, mungkin juga satu nabi, itu pun mempunyai tradisi dan kebudayaan yang berbeda-beda, karena ini berlaku lokal. Karena itu, hendaknya kita bisa memperhatikan antara bagian tradisi & kebudayaan atau agama di satu pihak, dan Buddha Dharma di lain pihak. Kalau tradisi dan kebudayaan, memang akan selalu berbeda-beda, tetapi kalau Buddha Dharma adalah satu.pihak, dan Buddha Dharma di lain pihak. Kalau tradisi dan kebudayaaan, memang akan selalu berbeda-beda, tetapi akalau Buddha Dharma adalah satu.
TATALAKSANA UPACARA
Disini kita akan berbicara maslaah tradisi dan kebudayaan yang ada kaitannya dengan tata laksana upacara menurut tradisi Buddhis. Tentunya kalau berbicara tradisi & kebudayaan menurut tradisi Buddhis, maka kita melakukan tatacara penghormatan yang kita tujukan kepada Sang Buddha, Sangh Dharma dan Sangh Sangha.
Kata upacara terdiri dari atas dua suku kata, yaitu: upa dan cara. Upa artinya dekat dan  cara artinya aturan. Intinya yaitu tindakan yang dilakukan sebagai penghormatan. Kalau dilakukan secara perorangan, itu disebut sebagai penghormatan, tetapi kalau dilakukan secara berkelompok dengan satu aturan tertentu, ini disebut sebagai upacara. Kalau kita menghormat kepada Sang Buddha sendirian, kita cukup memperhatikan diri sendiri, tetapi kalau secara berkelompok kita harus mempertimbangkan perhitungan sekitar kita agar kita bisa mendapatkan suatu kerapian dan kebersamaan yang baik.
Pada hakikatnya, memang Sang Buddha tidak mengajarkan tata upacara yang khusus untuk menghormat Beliau, atau menghormat Triratna. Tetapi mengenai penghormatan, Sang Buddha mengajarkan ada 2 cara menghormat, yaitu menghormat dengan materi (amisa puja) dan menghormat dengan suatu tindakan (patipatti puja). Kalau kita menghormat atau memuja kepada siapapun juga yang patut dihormat dengan materi (amisa puja), misalnya kita memberikan minuman, makanan, dsb. Tetapi kalau kita melakukan atau mempraktikkan nasihat-nasihat baiknya, itu dikatakan kita menghormatinya secara praktik/tindakan )patipatti puja).
            Pada intinya orang melakukan penghormatan atau puja ini mempunyai satu tujuan utama yaitu mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak bisa datang dengan gratis atau tiba-tiba. Semua itu harus diusahakan melalui suatu perjuangan. Salah satu perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan yaitu apapbila kita berani berkorban, minimal melakukan penghormatan.
            Dalam menghormat, ada dua aspek, yaitu yang pertama secara keagamaan yang kedua secara kemanusiaan. Secara keagamaan sebagai umat Buddha, maka obyeknya adalah Triratna. Secara kemanusiaan menurut Sang Buddha, adalah kepada ibu, ayah, guru agama, guru biasa dan raja/pemerintah. Inilah lapangan-lapangan yang subur yang bisa dijadikan obyek penghormatan, demi mendapatkan kebahagiaan.
            Tentu ada satu alasan mengapa kita melakukan penghormatan kepada orang tua (ortu) atau kepada Triratna. Kpeada ortu secara kemanusiaan adalah karena ortu adalah orang-orang yang berjasa langsung kepada kita. Seorang ibu berkorban untuk anak-anaknya sejak masih dalam kandungan. Sang ibu harus berpantang, tidak makan ini-itu, menghentikan tindakan ini-itu, dan sebagainya, sampai saat melahirkan, si ibu berjuang antara hidup dan mati, demi anak yang dilahirkannya. Itulah sebabnya seorang ibu berhak mendapatkan penghormatan dari anak-anaknya. Demikian pula dengan ayah, yang mencari nafkah atau penghodupan untuk membiayai dan membesarkan anak-anaknya. Juga guru rohani atau guru agama, para bhikkhu dan guru-guru di sekolah. Kepada raja/pemerintah yang secara tidak langsung memberikan perlindungan kepada masyarakat, perlu kita berikan penghormatan dengan cara yang tepat.
            Di dalam Aggabodhi Sutta, Sang Buddha menyatakan kalau seseorang menghormat kepada guru biasa, kreditnya satu. Kepada guru agama, kreditnya 10 kali, kepada ayahkreditnya 100 kali, kepada ibu kreditnya 1000 kali lipat dari menghormat guru buasa. Maka beruntunglah ibu-ibu yang mengajarkan Dharma pasti akan menghormati orang tuanya dengan tepat, sebab dia tahu bagaimana harga/jasanya orangtua.
            Kepada raja/pemerintah, misalnya penghormatan yang dilakukan bersama-sama dalma suatu upacara, seperti pada bendera dikantor-kantor, upacara pada hari-hari nasional, upacara kenegaraan, dan lain-lainya, semua itu pada intinya adalah memberikan penghormatan yang dilakukan secara berkelompok.
            Sang Buddha sendiri menurut suatu penghormatan secara praktik/tindakan (Patipatti Puja). Sesaat menjelang Sang Buddha parinibbana, pohon Sala mendadak berbunga dan menjatuhkan bunga-bunga. Sang Buddha masih sempat menasehati: bukan cara itu menghormatiku yang baik. Tetapi apabila engkau sekalian mau melaksanakan Dharma dengan benar, itulah cara menghormatiku yang baik. Memang kalau kita menghormat secara materi, nilai atau harganya adalah seharga materi tersebut dan terbatas. Tetapi kalau secara tindakan, itu harganya lebih tinggi sebab tidak terbatas.
PATIPATTI PUJA
            Ada dua cra dalam melakukan penghormatan secara tindakan (patipatti puja), yaitu:
1.     Secara Keagamaan (ritual),
2.     Dan kemasyarakatan (Dhammacariya)

Penjelasan:
Ad. 1. Secara keagamaan (ritual)
Secara ritual, yaitu dengan melakukan puja bhakti (kebaktian). Kita berpuja bhakti, membaca paritta, ini merupakan penghormatan yang kita lakukan kepada Buddha, Dharma, Sangha. Seperti kalau kita membaca paritta Buddhanussati, Dhammanusati, Sanghanusati, maka secara tidak langsung kita telah melakukan perenungan kepada Buddha, Dhamma, Sangha. Manfaat yang didapat adalah selain kita mengingat sifat-sifat luhur Sang Buddha, kita mendapatkan sisi lain dari membaca paritta yaitu kekuatan. Kalau membaca mantra itu dibaca dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang benar, nien cing akan mempunyai kekuatan, daya, mukjizat.
Paritta (bhs.Pali), Mantra (bhs.Sansekerta), Mantra (bhs.Kawi kuno), ini merupakan suatu kekuatan. Dari sekian banyak sutra yang ada, sutra mana yang perlu dibaca? Saudara bisa mendapatkan petunjuk di dalam buku Paritta suci yang sudah disusun. Disana selain jenis-jenis paritta yang bisa dibaca, juga ada petunjuk penggunanya. Misalnya ada paritta-paritta untuk membuka toko baru, mendiami rumah baru, potong rambut, perkawinan, kelahiran, kematian, dlsb. Kadang-kadang terlihat masih banyak umat yang tidak mengerti atau tidak memperdulikan pembacaan paritta ini, hal ini disebabkan oleh karena mereka belum sampai pada keyakinan yang berkaki tiga (Tahu, mengerti dan mengalami). Tetapi bagi mereka yang benar-benar telah mempunyai keyakinan berkaki tiga karena mambaca salah satu paritta  itu bermanfaat, berguna, maka dia tidak akan melewatkan, dia akan selalu membacanya dengan sungguh-sungguh.
IRAMA PARITTA
Bagaimana sebenarnya cara membaca sutra?
Dalam pembacaan paritta, hendaknya dengan suara atau nada irama yang sama. Jangan sampai ada yang tinggi dan rendah, atau keras-keras, tetapi malah salah. Karena itu perlu diperhatikan irama disekitar kita. Kalau mau baik, pakailah suara dalam, bukan suara luar. Paritta yang dibaca dengan irama yang benar dan suar yang baik itu akan mempunyai kekuatan dan pengaruh.
Mungkin akan dijumpai beraneka ragam irama orang membaca paritta. Irama yang disepakati untuk membawakan pembacaan paritta ini ada 3 jenis. Pertama, dibawakan dengan irama Sarabannya, kedua dengan irama Samyoga, dan yang ketiga adalah Irama Magadha. Kalau irama secara Magadha itu yang dibaca sepotong-sepotong. Juga dalam pembacaan paritta itu ada tanda-tanda bacanya, mana yang harus dibaca panjang dan mana yang pendek, tekanan suaranya, dan sebagainya. Kalau kita ktia bisa mendapatkan cara yang benar, selain artinya yang berubah, maka kita akan mendapatkan suasana yang enak, nafas yang cukup (tidak terengah-engah), tekanan udara yang baik, pikiran yang bersih. Ini semua akan memberikan pengaruh yang baik bagi diri sendiri dan kepada lingkungan, yaitu akan mengantarkan suasana menjadi tenang.

Sarana puja bakti
Di dalam pelaksanaan pujabakti, maka kita membutuhkan adanya sarana. Sarana-sarana tersebut adalah:
a.     Vihara
Bila kita pergi ke vihara, maka akan bertemu dengan Triratna. Bagi mereka yang telah mengerti harga dan manfaatnya perbuatan untuk mendapatkan kebahagiaan itu, pergi ke vihara bukan karena di dorong oleh lingkungan atau mendapatkan popularitas, tetapi untuk mendapatkan kebahagiaan secara murni bagi pribadinya. Maka dari itu mereka tidak pernah bosan pergi ke vihara, walaupun tidak ada teman atau yang diajak, tidak menjadi penghalang, ia tetap pergi ke vihara untuk melakukan penghormatan kepada Triratna.

Di dalam vihara-vihara itu ada bagian-bagian yaitu:Uposathagara (tempat kegiatan/upacara kebhikkhuan), Dhammasala (tempat untuk kebaktian umum), Kuti (tempat tinggal para bhikkhu), dan pohon Bodhi. Pohon Bodhi juga merupakan obyek pemujaan. Kita menghormat kepada pohon Bodhi berarti juga kita menghormat kepada Triratna, karena pertapa Siddhartha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Bodhi. Karena itu di Negara-negara Buddhis seperti Srilanka, Thailand, pohon Bodhi ini dihormati dengan suatu penghormatan yang tinggi sekali. Pohon bodhi itu selalu ditanam di suatu tempat yang dikeramatkan.
b.     Cetiya
Setiya sesunguhnya adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan barang-barang yang ada hubungannya dengan Sang Buddha, atau peninggalan dari Sang Buddha. Cetiya dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu:
·        Dhatu cetiya, yaitu tempat penyimpanan relic. Relic artinya sisa-sisa jasmani Sang Buddha, karena ketika Sang Buddha Parinibbana dan dikremasikan, jasmani Beliau tidak habis menjadi abu, tetapi tulang-tulangnya mengkristal menjadi relic. Relic itu bentuknya seperti mutiara. Biasanya relic ini disimpan didalam stupa. Jadi, cetiya, stupa, itu merupakan sarana penghormatan atau pemujaan kepada Sang Buddha atau Triratna. Borobudur yang berbentuk stupa, juga merupakan sarana menghormat/memuja Triratna.
·        Paribhoga Cetiya
Yaitu seperti kalau kita pergi ke Taman Lumbini (tempat kelahiran Pangeran Siddharta), ke Bodhgaya (tempat pencapaian penerangan sempurna), ke Benares (tempat pembabaran Dharma pertama kali), ke kusinara (tempat Parinibbana Sang Buddha), ini berarti juga kita menghormat Sang Buddha, Sang Triratna.
·        Dhamma Cetiya
Kalau kita punya satu set kitab suci Tipitaka, ini disebut Dhamma Cetiya, dan ini merupakan sarana penghormatan juga.
·        Udesika Cetiya
Misalnya Buddha Rupang(patung Buddha), Gambar Sang Buddha, Lambang Dhammacakkha, Siripada (tapak kaki mulia Sang Buddha), pohon Bodhi, itu semua juga sarana penghormatan kepada Sang Triratna.
·        Stupa
Adalah semacam monument yang dibuat/dibangun sebagai tempat peringatan dan penghormatan kepada Sang Buddha. Stupa melambangkan tempat Buddha. Stupa biasanya dipakai sebagai tempat menyimpan relik.
Ad2. Secara Kemasyarakatan(Dhammacariya)
Tindakan penghormatan secara kemasyarakatan, adalah:
·        Dana, yaitu sifat mulia yang diwujudkan dalam praktik dapat member dan siap menolong mereka yang perlu dibantu.
·        Piyavaca, yaitu sifat yang diwujudkan dalam praktik ramah-tamah dalam ucapan terhadap orang lain.
·        Atthacariya, yaitu sifat mulia yang diwujudkan dalam suatu perbuatan yang berguna bagi kepentingan orang banyak (masyarakat).
·        Samanattata, yaitu sifat mulia yang berwujud keseimbangan batin dan tidak bersikap sombong serta membeda-bedakan orang lain, memiliki kebijaksanaan sehingga dapat mengendalikan diri.
SIKAP MENGHORMAT
Membahas tentang sikap menghormat, akan erat sekali hubungannya dengan estetika dan etika. Estetika adalah seni budaya, sedangkan etika adalah sopan santun. Jadi kita menghormat, melakukan suatu tindakan yang mengandung makna atau misi seni, agar bisa menjadi lebih baik. Dan orang itu dinilai punya etika kalau orang tersebut mengenal sopan santun.
Atika di dalam masyarakat Buddhis ini ditanamkan dan diberikan dengan sama. Di Jawa kuno, orang banyak mendapatkan etika-etika yang ditanamkan sejak zaman Sang Buddha. Kalau kita berbicara tentang etika, manusia Siddharta adalah orang yang mempunyai etika tinggi. Karena beliau sebagai pangeran yang semula disiapkan untuk menggantikan kedudukan raja Suddhodana, ayahnya sudah diajar dan dibekali dengan etika, tentang sopan santun yang tinggi sekali, juga tentang seni (estetika). Sebab seorang raja itu adalah figure yang menjadi suri tauladan oleh rakyatnya. Kalau rajanya tidak mempunya etika dan jiwa seni yang tinggi, nanti masyarakatnya seperti apa?
Etika ini sudah ada sejak dulu sekali, sejak agama Buddha berkembang dan jaya di bumi nusantara ini. Karena agama Buddha ini pernah tinggal di nusantara selama seribu tahun, maka bukan mustahil kalau tradisi, kebudayaan, watak, jiwa, dan kepribadian masyarakat nusantara banyak dipengaruhi oleh kebudayaan atau tradisi Buddhis.
Etika ini akan sama dimana saja. Dari sekian banyak etika yang ada, tentu sulit dilakukan oleh masyarakat/umat awam secara utuh. Tetapi kalau seorang bhikkhu atau samanera, dituntut untuk bisa  melakukannya semaksimal mungkin. Karena itu, untuk orang biasa, sikap menghormat atau etika yang paling dasar ini diberikan secara umum, selain juga berlaku untuk para bhikkhu dan samanera. Dan ini akan mempunyai suatu kesamaan bagi seluruh umat Buddha dimana saja berada.
ETIKA DASAR
Etika yang paling dasar dari sikap menghormat yang benar adalah:
1.     Anjali
2.     Namaskhara
3.     Pradaksina/padakkhina
4.     Utthana
5.     Samicikamma
Inilah sikap menghormat secara tindakan yang paling dasar. Jadi kita memberikan penghormatan, apakah kepada Triratna, kepada ayah-ibu, guru, pejabat pemerintah yang sekarang juga sudah memakai sikap dasar tradisi Buddhis ini, dengan cara beranjali. Hanya saja kadang-kadang masih ada yang melakukannya dengan kurang tepat. Padahal ini perlu sekali ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Dengan melakukan hal itu, akan mendapatkan nilai tambah. Seseorang itu bisa dikatakan baik atau tidak baik, pertama-tama dapat dilihat dari tindakannya secara lahiriah. Dalam Vasala Sutta, Sang Buddha berkata, seseorang itu dikatakan Vasala (sampah masyarakat) bukan karena kelahiran. Sebaliknya, seseorang bisa dikatakan brahmana (tingkatan luhur) juga bukan hanya karena kelahiran, tetapi seseorang dikatakan Vasala atau brahmana itu karena pikiran, ucapan dan perbuatannya. Ini menurut Sang Buddha di dalam Vasala sutta.
ANJALI
Anjali yaitu merapatkan kedua belah telapak tangan di ulu hati (didada), telapak tangan berbentuk cekung sehingga kalau ditelungkupkan akan membentuk kuncup bunga teratai. Dengan dapat bersikap anjali bila berjumpa dengan sesama umat Buddha, ini sudah menunjukkan bahwa kita adalah umat Buddha. Karena anjali ini prinsip dasarnya adalah untuk memberikan penghormatan, maka di dalam memberikan penghormatan ini juga bertingkat. Bagaimana tingkatan dari anjali ini? Ada lima tingkatan anjali:
1.     Kalau kita menghormat kepada Triratna dengan membaca paritta, maka anjali di ulu hati. Jadi selama pembacaan paritta, mulai dari vandana, tisanarana, buddhanussati, sampai selesai anjalinya di ulu hati.
2.     Kalau menghormat sesama teman yang sebaya umurnya, anjali di ujung dagu.
3.     Kalau kepada orang yang lebih tua, anjali di ujung hidung.
4.     Kepada guru/bhikkhu, dilekuk hidung sambil menunduk sedikit.
5.     Kepada Buddha, Dharma dan Sangha (Triratna) baru dikening mata (di dahi), bukan di ubun-ubun. Jadi ada lima tempat yaitu; di dada, ujung dagu, ujung hidung, lekuk hidung, dan kening mata/dahi. Dalam bersikap anjali, siku adalah menempel dibadan, tidak terbuka lebar. Dengan anjali walau beberapa detik ini, disamping kita mendapat nilai etika secara lahiriah, kita juga telah sempat membuat pikiran menjadi bersih, sebab tak mungkin pikiran ini dapat melakukan 2 hal pada satu titik di satu waktu. Jadi pikiran pada saat itu tidak sempat membuat bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik
NAMASKARA/NAMAKHARA
Sikap menghormat yang lebih tingi lagi, yaitu Namaskara. Namaskara ini lebih sulit dari anjali. Dalam namaskara, ada 5 anggota tubuh yang harus menyentuh lantai, dan ada hitungan atau tahapannya.
PRADAKSINA /PADAKKHINA
Yaitu suatu penghormatan kepada Triratna dengan cara mengelilingi tempat-tempat tertentu di sebelah kanan kita. Ini biasanya dilakukan pada saat upacara Waisak atau kebaktian di VIhara. Mengelilingi Dharmasala, pohon Bodhi, atau stupa, dengan membawa bunga, dupa, lilin:sebanyak 3 kali. Putaran pertama kepada Buddha, kedua kepada Dhamma dan ketiga kepada Sangha. Selama berputar itu kita merenungkan sifat-sifat luhur Buddha, Dhamma dan Sangha. Bisa juga dengan menyanyikan Buddha Jaya Manggala Gatha, yaitu perenungan/penghormatan atas kedelapan kemenangan Sang Buddha; atau menyenandungkan lagu “aku berlindung” itu pun baik.
UTTHANA
Yaitu sikap penghormatan dengan cara berdiri. Utthana ini bisa dilakukan secara umum, tidak hanya di lingkup keagamaan. Misalnya sebagai tuan rumah kalau menerima tamu, kita berdiri untuk menyambutnya, syukur bisa dengan anjali. Ini berarti bahwa kita menghormati tamu, senang dengan kunjungannya. Akhir-akhir ini, saya lihat etika ini sudah luntur. Misalnya anak-anak, ada orangtuanya masuk atau lewat, dia acuh saja, tidak perduli. Enak-enak merokok, asyik nonton TV, atau baca Koran. Tetapi kalau anak-anak yang mengerti etika, meskipun baca Koran, belajar, atau mengerjakan sesuatu, kalau ada ortu yang masuk, dia harus berdiri, memberikan hormat atau mempersilahkan lewat duduk misalnya. Sebagai orang yang mengenal etika, semestinya kita dapat mempraktikkan hal ini. Kebiasaan seperti ini terlihat sekali di Negara-negara Buddhis. Penjaga-penjaga Vihara atau penjaga museum, begitu ada tamu datang, mereka mesti berdiri dan memberikan penghormatan. Begitulah tuan rumah yang baik.
SAMICIKAMMA
Yaitu: penghormatan secara tindakan atau perbuatan yang patut dilakukan. Misalnya ada teman di vihara yang menggelar tikar atau menata kursi, meskipun tidak diminta, ya kita bantu menggelar tikar atau menata kursi dan sebagainya. Itu juga suatu penghormatan untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan. Yang mendapatkan kebaikan itu bukan orang yang terhormat, tetapi orang yang menghormat. Yang dihormat tidak mendapatkan apa-apa, yang menghormat itu yang mendapatkan nilai tambah. Inilah yang pelu kita perhatikan di dalam melakukan penghormatan.
Demikianlah secara umum uraian tentang tatacara dan sikap yang benar dalam melakukan penghormatan.



2 komentar:

  1. Thanks you,,, pak komang... semoga lebih banyak lagi dhamma yang di pulikasikan di internet lagi

    BalasHapus