Senin, 07 Maret 2011

AGAMA BUDDHA DAN ETIKA BUDAYA MORAL MANUSIA


Dalam kancah modernisasi pembangunan, rasanya ayunan langkah kehidupan ini semakin komplit dan serba menyenangkan. Manusia untuk menghadapi keberadaan dunia sekarang ini, diberi kebebasan terarah untuk menikmati kesenangan dan mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani. Sungguh bijaksana sekali, sehingga pemerintah memberi suatu kebebasan yang jarang diberikan oleh pemerintah lain terhadap Negara dan rakyatnya. Hidup kita merasa terlindungi, terjamin dan bisa menikmati fasilitas yang terlah tersedia. Namun adakalanya fasilitas tersebut bisa disalahgunakan, sehingga suatu saat bisa menjadi penyejuk jiwa, dan aat yang lain bisa menjadi boomerang, itulah keserakahan (lobha) manusia. Tak pelak lagi kalau rasanya manusia sekarang ini banyak yang mengeluh dan selalu merasa dirinya kurang mampu. Secara lahiriah, fasilitas sebagai sumber daya kehidupan manusia sudah terpampang di depan kita, tinggal bagaimana cara kita untuk menikmati dan menjalankan serta meraih meraih demi terciptanya kondisi kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan.

Kemajuan sains memberi kemudahan bagi manusia untuk menciptakan kondisi pikiran yang sehat dan memiliki cakrawala berpikir yang luas. Sehingga pikiran manusia mampu menampung kebudayaan yang datang dan menyeleksi kebudayaan itu, sehingga bermanfaat bagi kemajuan suatu bangsa. Transformasi kebudayaan seyogyanya sebagai poros strategi untuk menghadapi pembangunan jangka panjang tahap kedua. Bukanlah guru besar para dewa dan manusia yakni Buddha Gotama dalam kehidupannya juga banyak menghadapi berbagai kebudayaan. Untuk menjernihkan kebudayaan yang bersifat samar-samar yang hanya dianut berdasarkan dari turun temurun, Sang Buddha mencari jalan keluar bagaiman caranya supaya manusia tidak memiliki pikiran yang berbau dogmatis dan asal percaya saja. Disamping itu, Sang Buddha mencari jalan pembebasan kehidpan manusia dari penderitaan (dukkha), walaupun pada jaman kehidupan Sang Buddha sudah banyak terdapat para guru spiritual yang mengajarkan cara hidup menuju kebahagiaan dan terbebas dari penderitaan (dukkha) menurut konsep mereka masing-masing. Bukan berarti Sang Buddha bermaksud untuk menjadi guru tandinga, dan bukan pula beliau mencari nama maupun penghormatan. Namun pengorbanan Beliau pantas untuk kita beri pujian, karena beliau adalah satu-satunya manusia di dunia yang rela meninggalkan kedudukan sebagai pengganti raja, meninggalkan isteri, anak dan kekayaan yang menurut ukuran duniawi lebih dari cukup. Dalam kenyataan itu bukan kebahagiaan yang abadi, karena memiliki pangkat, kedudukan, dan harta kalau kita tidak bisa menjaga dan menggunakan dengan baik, semua itu akan emnimbulkan keakuan dan menjadikan sumber penderitaan bagi diri sendiri.

Didalam menghadapi manusia yang memiliki kebudayaan yang berbeda, Ajaran Sang Buddha bukan berarti sebagai penentang dan penghambat pembangunan yang sekarang sedang dirintis dan diprogram oleh pemerintah, namun Buddha Dharma memberi jalur-jalur tersendiri, sehingga kebudayaan itu bisa diterima di tengah-tengah masyakarat khususnya di Indonesia yang bersifat majemuk. Ajaran ini sesuai dengan realitas obyektif dan konsekuensi logis dari arus gerak perubahan yang sangat cepat, akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta memendeknya pilar-pilar komunikasi. Umat Buddha tidaklah heran dan terkejut untuk menghadapi keadaan jaman yang begitu maju dengan pesat. Bukankah Sang Buddha sendiri mengakui, bahwa kemampuan manusia itu berkembang dan memiliki kemampuan untuk mencipta. Memang kemakuan ilmu pengetahuan dan teknologi ada yang bersifat membangun dan ada yang bersifat membunuh. Itu sudah wajar, maka disinilah letak tanggung jawab kita bersama untuk memberi seleksi secara sehat dan penuh keterbukaan.

Umat Buddha hendaknya berani mentransformasikan kebudayaan secara revolusif, jadi adalah sangat primitif dan cupat sekali kalau kita selalu menutupi kekurangan hanya karena kemampuan yang sempit dan malu kalau dianggap orang bodoh. Justru menutupi segala kekurangan yang disebabkan dari minimnya pengetahuan akan Buddha Dharma, itulah sebenarnya orang bodoh. Tanpa berani menempuh irama ini, Agama Buddha akan semakin ketinggalan dengan agama-agama lain. Bukannya kita iri dan bermaksud bersaing, karena memang bukan iu tujuan ajaran Buddha. Namun apa salahnya kalau kita sekarang mau mulai mempelajari dari kekurangan kita sendiri, tidak hanya menilai, mencela, menonton dan memberikan kasak-kusuk terhadap kemajuan yang lain. Ini adalah pikiran manusia yang sangat rendah sekali.

Salah satu tujuan atau arah dari ajaran Sang Buddha, adalah menciptakan pikiran manusia yang berkualitas dan berakal sehat. Untuk memenuhi sasarannya, maka manusia harus memiliki hubungan dengan Tuhan, manusia dengan semua makhluk dan manusia dengan alam lingkungan. Dari sudut pandang ajaran Buddha, maka pada dasarnya dimensi pengembangan sumber daya manusia bermuara dari pembangunan untuk diri kita dan bukanlah diri kita untuk pembangunan. Pembangunan yang dimaksudkan disini adalah pembangunan mental. Tetapi pembangunan mental saat ini dirasa masih sangat kurang, sehingga tidaklah aneh kalau sekarang muncul berbagai ragam sikap mental yang tidak terpuji seperti deskriminasi, manipulasi, tindak kriminal, penindasan hak asasi manusia, dan lain-lain, sehingga menimbulkan konflik serta keresahan sosial.

Sungguh sangat mengherankan, mengapa di dunia saat ini banyak terjadi peperangan dan penindasan yang sangat mengerikan, sehingga banyak menimbulkan penderitaan bagi manusia. Keadaan ini menandakan nilai moral yang semakin merosot, dan makin merajalelanya kanker kegelapan batin (Avijja) yang berkecamuk dalam batin manusia. Padahal saat ini banyak bermunculan para Dharma-duta dari berbagai agama yang senantiasa mengumandangkan ajaran cinta kasih. Apakah pesan-pesan yang disampaikan oleh para Dharma-duta tersebut hanya dianggap sebagai kicauan burung-burung hanya hanya indah di suaranya tetapi tidak bermakna? Dan apakah seorang Dharma-duta/penceramah hanya dianggap singa gaung yang kelihatan gagah bila bertengger di podium, tanpa menarik dan menjalankan gaungan itu. Sungguh ironis memang. Seharusnya, dengan makin tingginya nilai budaya manusia, kemampuan berpikir dan nilai moral manusia makin meningkat pula. Bukan sebaliknya, tetapi fakta yang ada sungguh sangat menyesalkan dan menjadi bahan untuk kita pikirkan bersama.

Sekarang bagaimana upaya kita untuk bisa meluruskan kembali kebobrokan moral ini untuk menuju perdamaian yang sebenarnya. Jangan diharap dunia ini bisa damai sebelum masing-masing individu manusia membentuk dirinya menjadi damai. Ini adalah hukum yang tak bisa diganggu gugat. Dipihak lain, manusia memang termasuk makhluk yang memiliki banyak segi, penuh misteri dan unik, semakin didalami semakin adimisteri. Manusia pada dasarnya tidak selaras, namun diberi potensi dan kekuatan untuk selaras. Ketidakselarasan akan menimbulkan pertentangan, sedangkan pertentangan merusak keharmonisan serta keseimbangan batin (upekkha). Manusia memiliki ambivalen, satu sisi dikusiri oleh nafsu (tanha) dan cenderung berpihak pada keserakahan (lobha), sedangkan pada sisi yang lain di bawah kendati hati nurani, karenanya berpihak pada sifat “andap asor”. Itulah sebabnya, hidup tanpa adanya keseimbangan batin akan menyebabkan erosi moral yang sulit terkendali. Bahaya erosi moral akan mengakibatkan gersangnya perdamaian batin manusia, dan akan merembet serta merusak tata lingkungan yang sementara ini sudah terjaga, walaupun suatu saat juga masih kecolongan.

Suatu kebudayaan yang bisa diterima di tengah masyarakat adalah kebudayaan yang bisa membangun dan mengembangkan mental masyarakat secara positif. Jadi masyarakat hendaknya bisa bersikap selektif di dalam menerima kebudayaan baru. Kecenderungan yang ada sekarang, masyakarat dengan sangat mudahnya dan praktis tanpa seleksi menyerapa kebudayaan asing yang sering kali tidak sesuai dengan etika dan di dalam pribadi masyarakat, antara mempertahankan kepribadian yang terjadi akibat penerimaan kebudayaan yang asal terima hanya karena takut dengan yang di atas. Akibatnya masyarakat akan kehilangan arah kepribadian dan cenderung untuk bertindak tanpa mengenal batas susila.

Struktur mental yang memberi latar belakang, merupakan paduan dari jamaknya pengalaman, akan sistim nilai budaya yang berorientasi dalam jiwa manusia. Semua ini berpengaruh langsung terhadap pikiran (mano), sikap dan perbuatan. Sementara itu nilai budaya merupakan konfigurasi dari sejumlah hasrat, intuisi, cita-cita, perasaan, harapan, keyakinan (Saddha) yang bersifat tradisional. Secara simultan, struktur mental dan sistem nilai budaya mempengaruhi bahkan menentukan cara-cara menanggapi realitas sosial, merancang ethos, dan melahirkan aktualisasi khas dari sejumlah kemungkinan yang tidak terbatas.

Sekarang belum saatnya ketinggalan untuk membenahi segala kekurangan dan kelemahan yang dimiliki setiap insan. Kalau manusia menyadari pentingnya kebudayaan yang senantiasa memberi nilai hidup tersendiri dan mendorong lebih maju dalam wawasan berpikir. Maka kita harus terlebih dahulu menciptakan kedamaian, kebahagiaan, keharmonisan yang menjadikan momok bagi kehidupan. Kitapun juga tidak bisa menjejalkan kebudayaan untuk bisa diterima oleh setiap manusia atau negara lain. Sifat yang seperti ini sudah usang dan harus cepat untuk kembali serta pamit ke asalnya. Ajakan kita hendaknya setiap umat manusia senantiasa waspada dengan adanya berbagai macam budaya yang berkulit manis dan yang sebenarnya berisi pahit. Jangan terpikat rayuan, iming-iming serta pujian semu, kalau kita ingin menikmati kebebasan yang sebenarnya.    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar