Rabu, 16 Maret 2011

SEKILAS TENTANG KUAN KONG



Pada akhir dinasti Han (199-220 SM) telah terjadi perang kekuasaan (perang saudara) yang menyebabkan negara di daratan Tiongkok itu terbagi atas tiga negara yaitu Wek, Suk Dan Wu pada tahun 220-280 SM). Kuan Kong adalah seorang jendral negara. Negara Suk amat termasyur. Dalam suatu pertempuran negara ia tertangkap bersama dengan anaknya dan keduanya dihukum mati.

Pada suatu hari Bhiksu Phuh Cing yang berdiam di suatu gunung Yu Chuan sedang bermeditasi, ia mendengar suatu teriakan: “kembalikan kepalaku! Kembalikan kepalaku!” berulang-ulang, Bhikshu Phuh Cing menengadah dan mengamati secara seksama karena ingin tahu siapakah orang yang berteriak-teriak itu. Ternyata yang berteriak itu adalah arwah Kuan Kong yang penasaran, dan sesaat kemudian Kuan Kong turun dari angkasa dengan menunggang kudanya sambil memegang golok besar.

Bhikshu Phuh Cing memukul pelana kudanya dengan kebutan seraya berkata “Dimana Yun Cang; (Yun Cang atau Un Ting adalah nama asli Kuan Kong). Pertanyaan ini membuat Kuan Kong mulai sadar (pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan tentang khas guru-guru sekte Dhaya kepada siswanya yang bertanya kepada Dharma, yang tidak dimengertinya. Pertanyaan sang siswa kadang kala dijawab oleh sang guru dengan pertanyaan pula dengan maksud agar siswa mencari sendiri apa jawabannya, karena pertanyaan sang guru mengandung Dharma).

KWAN KONG – BODHISATTVA SATYAKALAMA

Guan sheng di jun (Hokkian:Kwan Seng Tek Kun) atau yang lebih dikenal sebagai Guan Gong (Kwan Kong) adalah seorang jenderal terkenal yang hidup pada zaman tiga negara (Sam Kok – 219 M). beliau lahir di He Dong (sekarang Jie Zhou), propinsi Shan Xi, dan bernama asli Guan Yu alias Guan Yin Zhang.

Kwan Kong telah mencapai kesempurnaan dengan gelar Bodhisattva Satyakalam, Guan Sheng Di Jun (Kwan Seng Tek Kun). Dalam Agama Buddha, gelar Di Jun (Tek Kun) adalah setingkat dengan Bodhisattva. Bodhisattva pria biasanya bergelar Di Jun. Sedangkan Bodhisattva wanita bergelar Pho Sat. Kwan Kong juga bergelar Fu Mo Da Di (Bodhisattva Penakluk Mara), Guan Fa Li Zu (Bodhisattva Penegak Hukum). Ada umat yang bertanya: dari mana kita tahu bahwa Dewa Kwan Kong telah mencapai Bodhisattva? Perlu kita ketahui bahwa perbedaan utama antara Bodhisattva dengan Dewa adalah: Bodhisattva bersifat internasional (Diakui seluruh dunia), sedangkan Dewa bersifat lokal (kedaerahan). Contoh: Kwan Im Pho Sat yang dikenal sebagai dewi Kwan Im, adalah Bodhisattva. Beliau di hormati (diakui) diseluruh dunia, bahkan orang Baratpun mengenalnya sebagai Goddes of Mercy. Dimana ada Wihara/Kelenteng, disitu pasti ada arca Kwan Im Pho Sat. San Bao Da Ren (Sam Po Tai Jin) adalah Dewa, beliau dihormati di Indonesia khususnya Jawa Tengah, arcanya hanya terdapat di beberapa kelenteng saja.

Kwan Kong bersifat Internasional, diakui seluruh dunia. Arca Kwan Kong terdapat di Wihara/Kelentang di berbagai belahan dunia. Bahkan Kwan Kong adalah salah satu Dewata yang dipuja oleh ketiga agama (Sam Kauw) sekaligus. Kaum Buddhist menganggapnya sebagai Dewata Pelindung Kuil dan Bangunan-bangunan suci (Salah satu dari Ke Lan Seng Ciong Pho Sat). Kaum Taoist menghormatinya sebagai Malaikat Pelindung Peperangan. Sedangkan kaum Confusianist memujanya sebagai orang suci dan teladan dalam hal setia, pri kebenaran dan keberanian. Sepanjang kekaisaran Tiongkok dan pada dinasti Qing, Kwan Seng Tee Kun amat dipuja bersama-sama Kwan Im Hut Co. Beliau adalah Dewata Utama Pelindung Kerajaan.

Gambar dan arcanya populer dengan ujud Beliau duduk membaca kitab Hikayat zaman Chun Chiu (salah satu dari lima kitab klasik). Bersama 4 dewata pendidikan lainnya beliau dipuja sebagai 5 dewata pendidikan (Ngo Bun Ciang). Rakyat pada umumnya memujanya sebagai dewata sipil dan militer (Bun Bu Seng Sin) dan salah satu dari Dewata Harta (Cay Sin). Bersama anak angkatnya Koan Phing, dan pengawalnya Ciu Chong yang setia, Beliau banyak dipuja baik di kelenteng maupun di rumah-rumah.

Dalam kisah tiga negara (Sam Kok) Kwan Kong adalah seorang Jenderal yang bernama Guan Yi (Kwan Yi). Lalu bagaimana Jendral Kwan Yi (Kwan Kong) bisa menjadi Bodhisattva? Seperti kita ketahui, Bodhisattva adalah seorang pembina diri yang penuh dengan cinta kasih. Sedangkan seorang jendral di jaman peperangan pastilah banyak membunuh orang. Ini adalah hal yang amat kontradiktif. Namun perlu kita ketahui bahwa seseorang bisa menjadi Bodhisattva bila ia memiliki suatu kepribadian luhur yang luar biasa. Kepribadian luhur Jendral Kwan Kong yang luar biasa adalah Kesetiaan dan Peri Kebenaran.

Berikut adalah intisari dan kepribadin luhur dari sejarah hidup Kwan Kong dalam kisah Sam Kok (kisah tiga negara).
  1. Setia kepada negara
pada suatu peperangan, Kwan Kong sendirian dikurung oleh ratusan prajurit musuh (Chao-Chao). Namun beliau tidak takut mati, tetap tidak mau menyerah kepada kepada Chao-chao. Malah mengajukan 3 syarat: 1.takluk kepada kerajaan Han, bukan kepada Chao-chao. 2.keluarga Lauw Pie (isteri Lauw Pie) dijamin kemanannya, 3.bila telah mendengar keberadaan Lauw Pie, Kwan Kong diperbolehkan bergabung kembali dengan kakaknya. Chao-chao dengan sangat terpaksa menerima ketiga syarat ini (Coba kita pikir: mana ada orang yang menyerah, tapi mengajukan 3 syarat???). kemudian Kwan Kong tinggal di istana Chao-chao selama 12 tahun, namun beliau tetap setia kepada Dinasti Han dengan prinsip patriotic:menyerah kepada Han, bukan Chao.

  1. Menjaga norma susila
Kwan Kong menjaga keselamatan kedua kakak ipar selama 12 tahun, ditemani lilin membaca kitab sastra Chun Chiu. Tak berani meninggalkan kakak ipar, karena takut mereka mendapat bahaya. Saat kedua kakak ipar tidur, Kwan Kong tidak tidur dan menjaga di luar kamar, mempersiapkan golok untuk menjaga keselamatan kedua kakak ipar. Sebenarnya Chao telah membangun istana yang megah untuk Kwan Kong, namun Beliau tak mau tinggal di dalamnya, karena senantiasa mengkhawatirkan kedua kakak iparnya. Lalu Chao dengan licik mengatur Kwan Kong tinggal dengan kedua kakak iparnya dalam satu atap yang sama, ingin melihat Kwan Kong bisa menjaga norma susila. Kalau melanggar berarti kegagahan Kwan Kong telah lenyap di tangan Chao, dan tidak ada muka untuk kembali kepada Lauw Pie. Tapi taktik Chao tidak berhasil. Selama 12 tahun Kwan Kong berhasil menjaga Norma Susila. Manusia adalah makhluk yang berperasaan, orang yang tinggal bersama selama 12 tahun pasti ada perasaan. Namun Kwan Kong bisa menjaga kesucian. Sungguh luar biasa! Hawa ksatria membumbung tinggi ke angkasa, sepanjang sejarah manusia tiada orang kedua (along the history there was no the second man).
  1. Tidak tergiur akan kesenangan
Chao-chao melayani Kwan Kong dengan 3 hari 1 pesta kecil, 5 hari 1 pesta besar, dengan siasat lembut ingin menaklukkan hati Kwan Kong agar mau mengabdi kepadanya. Karena Chao-chao melihat Kwan Kong menjaga Lauw Pie selama berperang, dengan penuh penderitaan, letih, tiap saat terancam bahaya. Namun Kwan Kong tetap setia kepada Lauw Pie, hatinya tidak tergerak dengan pesta-pesta tersebut.
  1. tidak silau akan nama dan harta
Kwan Kong dilantik sebagai Sou Ting Hou (panglima laskar tertinggi angkatan perang), naik kuda diberi emas, turun kuda diberi perak. Chao chao sangat pintar menjilat/mengambil hati: setiap Kwan Kong turun dari kuda ada pengawal yang memberi sekantung perak. Tetapi Kwan Kong tidak bergeming, tidak serakah akan harta (Coba kalau kita tukar posisi; misalnya setiap mau naik mobil diberi emas, begitu turun dari mobil diberi sekantung perak. Jika kita serakah, ingin mendapat harta yang berlimpah dengan mudah, maka kita setiap hari pekerjaannya hanya naik dan turun mobil saja). Chao merasa kesal, apakah emas dan perak saya palsu?karena di otak Chao chao, di dunia ini tidak ada orang yang tidak bisa ditaklukkan dengan 4 Ta: harta (emas dan perak), tahta (kedudukan tinggi:Sou Ting Hou), wanita cantik (chao chao mengirimkan puluhan wanita cantik kepada Kwan Kong, tetapi beliau tidak merasa tertarik sama sekali, malah diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya. Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan, Ying Xiong Nan Guo Mei Ren Guan, yang berarti seorang pahlawan sukar melewati gerbang ujian wanita cantik. Pepatah ini sudah banyak terbukti di berbagai negara dari zaman ke zaman. Antara lain: pada Zaman Sam Kok ini ada seorang pahlawan lain yang sangat luar biasa hebat, yaitu jenderal Lu Pu (Lu Po). Pernah pada suatu pertempuran Lu Po ini dikeroyok oleh Lauw Pie, Kwan Kong dan Tio Hui (3 saudara) sekaligus. Tetapi pertempuran ini berlangsung seimbang. Jendral Lu Po yang hebat tidak bisa dikalahkan di medan pertempuran, tapi ia ditaklukkan oleh .......... wanita yang cantik, yaitu Tiao Xian. Namun pepatah ini tak berlaku untuk Kwan Kong, yang tidak bisa ditaklukkan oleh wanita cantik). Ta yang keempat jamuan pesta. Namun semua cara Chao Chao untuk menaklukkan Kwan Kong gagal total. Kwan Kong tak bergeming, tetap setia kepada Lauw Pie!

  1. tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama
chao chao memberikan hadiah jubah merah yang dilapisi permata kepada Kwan Kong. Namun oleh Kwan Kong jubah merah (Baru) tersebut dipakai di dalam, sementara jubah hijau pemberian dari Lauw Pie yang sudah lama, robek dan lusuhu dipakai di luar. Melihat hal ini Chao Chao merasa amat heran, lalu bertanya kepada Kwan Kong mengapa demikian? Lalu Kwan Kong menjawab, jubah merah yang baru pemberian dari Chao Chao di pakai di dalam adalah sebagai tanda Kwan Kong menghormat Chao Chao. Sementara jubah hijau yang sudah lama dan lusuh tapi dipakai diluar adalah sebagai tanda bahwa Kwan Kong senantiasa mengingat kakak angkatnya, Lauw Pie!

  1. tidak melupakan kesetiaan persaudaraan
pada saat menerima kabar dari kakaknya Lauw Pie, Kwan Kong segera mohon pamit kepada Chao-Chao, tapi Chao Chao sengaja tidak mau bertemu, mengantung plat di depan kamar: tidak menerima tamu! Tetapi Kwan Kong tidak terbelenggu oleh budi awam, lalu mengembalikan semua emas dan perak yang telah diterimanya, juga stempel kebesaran Sou Ting Hou. Kemudian Kwan Kong meninggalkan istana Chao Chao untuk pergi ribuan kilometer mencari kakak angkatnya, Lauw Pie.
  1. Melupakan aku, tidak memperdulikan keselamatan sendiri
Chao chao begitu mengetahui kaburnya Kwan Kong dari istananya, menurunkan perintah:jika tidak bisa menahan Kwan Kong, lebih baik bunuh saja! Kwan Kong sendirian dengan membawa dan melindungi kedua kakak iparnya berhasil menerobos 5 benteng dan membunuh 6 jendral. Sungguh luar biasa!!! Akhirnya Kwan Kong yang sudah amat letih berhasil bertemu dengan Lauw Pie dan Tio Hui, kakak dan adik angkatnya. Kesetiaan dan peri kebenaran Kwan Kong sungguh tak tertandingi, sepanjang sejarah manusia hanya ada 1 orang. Beliau berhasil mempertahankan kepribadian luhur Gang Zheng: ksatria, adil, jujur, teguh, berintegritas, dan gagah berani, akhirnya mencapai kesempurnaan sebagai Maha Bodhisattva Kumala Raja.

Bersama ini menghimbau umat agar waktu sembahyang kepada Kwan Kong, tidak menggunakan daging sebagai persembahan, tapi hanya menggunakan buah-buahan atau kue (vegetarian). Ingat, Beliau telah mencapai Bodhisattva dengan gelar Bodhisattva Satyakalama (Kwan Seng Tek Kun).

SEJARAH SINGKAT BODHISATTVA SANGHARAMA/GUAN YU

Sebagian besar orang bisa saja tidak mengenal nama Bodhisattva Sangharama, tetapi begitu melihat citra rupang seorang jenderal gagah perkasa dengan jenggot panjang indag bergemulai dan paras muka merah lebam berkilau, maka mereka pasti akan langsung tahu. Ya, Bodhisattva Sangharama adalah Guan Yu alias Guan Gng (Kwan Kong).

Siapa tidak tahu Guan Yu? Banyak orang mengetahuinya dari cerita Sam Kok (kisah tiga negara) dan game Dynasty Warrior. Namum, tahukah kita bagaimana latar belakang Guan Yu hingga dinobatkan sebagai Dharmapala (pelindung Dharma) dalam tradisi Mahayana Tiongkok?

Guan Yu (160-219 M), alias Yun Chang, lahir pada tanggal 24 bulan 6 Imlek, adalah penduduk asal Jiezhou, Hedong (sekarang Yuncheng, Propinsi Shanxi). Sejak kecil dididik dalam bidang kesusastraan dan sejarah. Beliau sangat menggemari kitab sejarah Chunqiu (musim semi dan gugur) dan Zuozhuan (kitab sejarah karya Zuo Qiuming). Guan Yu memiliki 3 anak: Guan Ping, Guan Xing  dan Guan Suo. Salah satu watak sitimewa yang dimiliki Guan Yu adalah jiwa setia dan ksatria, beliau berani membela yang lemah dan tertindas. Tahun 184, Guan Yu melarikan diri dari kampung halamannya setelah membunuh orang demi membela kaum yang lemah. Beliau menuju wilayah Zuo, kemudian berkenalan dengan Liu Bei dan Zhang Fei. Liu Bei adalah anggota keluarga kaisar kerajaan Han yang sedang merekrut prajurit untuk membasmi pemberontakan sorban kuning. Karena memiliki cita-cita yang sama, maka mereka bertiga menjalin tiga persaudaraan yang dikenal dengan sebutan tiga pertalian setia taman bunga persik. Semenjak itu, mereka bertiga berkomitmen sehidup semati memperjuangkan cita-cita penegakan hukum demi membersihkan kerajaan Han dari gerogotan korupsi dan pengkhianatan.   

Namun kerajaan Han yang telah berdiri kokoh selama 400 tahun itu akhirnya terpecah menjadi 3 kerajaan, yang mana Liu Bei sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan yang menyatakan diri sebagai penerus Dinasti Han. Era inilah yang kemudian di kenal dengan sebutan San Guo (Sam Kok-tiga negara). Perjuangan keras tiga bersaudara Taman Bunga Persik untuk mempersatukan Tiongkok tidak berhasil. Begitulah hingga usia 60 tahun, Guan Yu bersama puteranya, Guan Ping, akhirnya gugur dalam pertempuran.

Meskipun demikian, rasa hormat terhadap Guan Yu tidak serta merta lenyap seiring dengan gugurnya pahlawan berparas merah lebam ini. Keberanian, kesetiaan dan jiwa ksatria beliau menjadi kisah harum dalam masyarakat Tionghoa selama turun temurun. Selain itu, dalam kalangan spiritual, dikenal pula kisah perjodohan Guan Yu dengan ajaran Buddha, sebuah ajaran kebenaran sejati yang menembus kepekatan misteri dimensi ruang dan waktu. Ya, Guan Yu menjadi siswa Buddha setelah beliau gugur.

Awal mula sebagai pelindung Dharma

Kisah berikut ini terjadi beberapa ratus tahun setelah gugurnya Guan Yu. Berdasarkan catatan sejarah Buddhis – Fozhu Tongji, pada tahun 592 M, (dinasti Sui, era Kai Huang ke-12), disebutkan bahwa pada suatu malam, langit tiba-tiba menjadi cerah, bulan terlihat jelas sekali, Guan Yu bersama Guan Ping dan sekelompok makhluk gaib muncul di hadapan Master Tripitaka Zhiyi (pendiri aliran Tiantai Tiongkok) yang sedang bermeditasi dibukit Yuquan. Guan Yu berkata ”Saya Guan Yu dari era akhir Dinasti Han. Ini adalah putra saya, Guan Ping. Kami terus berkelana setelah meninggal. Yang arya, dengan tujuan apakah anda datang ke sini? Master Zhiyi menjawab, ”Aku datang kesini untuk mendirikan vihara.”

Guan Yu menjawab, ”Yang Arya, ijinkanlah kami untuk membantumu. Tidak jauh dari sini, terdapat lahan yang kokoh tanahnya. Saya dan putra saya dengan senang hati akan membangun vihara disana untuk anda. Mohon lanjutkan meditasinya, vihara akan selesai dalam waktu 7  hari saja.” Setelah Master Zhiyi selesai meditasi, terlihat sebuah vihara yang sangat indah muncul persis di tempat yang ditunjukkan oleh Guan Yu. Vihara itu kemudian diberi nama Vihara Yuquan.

Suatu hari Guan Yu datang ke Vihara Yuquan untuk mendengarkan Master Zhiyi membabarkan Dharma, setelah itu beliau memohon untuk dapat menjadi siswa Buddha dengan menerima Trisarana dan Pancasila Buddhis. “Aku sangat beruntung mendapat kesempatan mendengarkan Dharmad dan beraspirasi mempraktikkan Jalan Bodhi (pencerahan) mulai dari sekarang. Mohon ijinkanlah saya untuk menerima sila dari anda,” demikian ucap Guan Yu kepada Master Zhiyi. Master Zhiyi kemudian membangun sebuah kuil untuk Guan Yu di sebelah Barat Daya Vihara. Sebuah batu ukiran yang bertajuk tahun 820 M di Vihara Yuquan mengisahkan tentang pertemuan antara Guan Yu dan Zhiyi tersebut.

Selain kisah diatas, ada versi lain tentang kisah bagaimaa Guan Yu menjadi seorang pemeluk agama Buddha. Dikatakan bahwa pada suatu malam Guan Yu menemui Bhiksu Zhikai, murid dari Tiantai Master Zhiyi, dan menerima Trisarana dari Bhiksu Zhikai. Kemudian Bhiksu Zhikai melaporkan perjumpaannya dengan Guan Yu tersebut kepada Yang Guang, Pangeran Jin (yang kelak akan dikenal sebagai Kaisar Sui-Yang Di). Pangeran Yang Guang memberikan Guan Yu gelar ”Sangharama Bodhisattva”. Itulah asal muasal dari mana gelar Sangharama diberikan kepada Guan Yu.

Pada kisah lainnya, seperti dalam catatan Kisah Tiga Negara (San Guo Yan Yi), Guan Yu muncul dihadapan Bhiksu Pujing di malam sat gugur karena dipenggal oleh pihak Sun Quan, Raja Wu. Tubuhnya dikubur di dekat Bukit Yuquan yaitu di JingZhou. Di sela-sela kegalauan atas kehilangan kepala, raga halus Guan Yu bergentayangan mencari kembali kepalanya. Bhiksu Pu Jing dengan kekuatan batinnya melihat Guan Yu turun dari angkasa penunggang kuda sambil menggenggam golok besar Naga Hijau, bersama dengan 2 pria, Guan Ping dan Zhou Cang. Semasa hidupnya saat dalam pelarian dari kubu Cao Cao, Guan Yu pernah ditolong oleh Pu Jing di vihara Zhen-guo. Lalu Bhiksu Pu Jing memukul pelana kuda dengan kebutan cambuknya seraya berkata, ”Dimana Yun Chang?” seketika itu juga Guan Yu tersadarkan.

Guan Yu kemudian memohon petunjuk untuk dapat terbebas dari kegelapan pengembaraan batin. Pu Jing memberi nasihat, “Dulu salah atau sekarang benar tak perlu dipersoalkan lagi, karena terjadi pada saat sekarang tentunya ada sebab pada masa lalu.” Pu Jing lalu melanjutkan, “sekarang engkau meminta kepalamu, menuntut atas kematianmu di tangan Lu Meng, namun kepada siapa Yan Liang, Wen Chou dan penjaga lima perbatasan serta banyak lagi yang lainnya yang telah kamu bunuh, meminta kembali kepala mereka?” kata-kata Pu Jing itu terasa sangat menyentak.

Setelah tersadarkan dari kegalauannya, Guan Yu lalu menjadi pengikut Buddhis. Sejak itu Guan Yu sering muncul melindungi masyarakat di sekitar Bukit Yuquan. Sebagai rasa terima kasih kepada Guan Yu, para penduduk membangun Vihara dipuncak Bukit Yuquan.

Gubuk rumput tempat tinggal Pu Jing kemudian dibangun menjadi Vihara Yuquan. Vihara Yuquan ini didirikan pada abad ke 6 M dan didalamnya ada aula Sangharama. Ini adalah salah satu tempat pemujaan Guan Yu yang tertua, juga merupakan Vihara tertua di Dangyang. Tempat penampakan raga halus Guan Yu ditandai dengan sebatang pilar batu yang dituliskan: “Disini tempat Guan Yun Chang dari dinasti Han menampakkan diri.” Pilar batu itu adalah hadiah dari Kaisar Wan Li masa dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang. Dalam sutra Saptabuddha Ashtabodhisattva Maha Dharani Sutra (sutra tentang Mantra Sakti Mahadharani yang dibabarkan 7 Buddha dan 8 Bodhisattva) tercatat bahwa ada 18 Sangharama (Qielan Shen) sebagai pelindung lingkungan vihara, yaitu: Meiyin, Fanyin, Tian’gu, Tanmiao, Tanmei, Momiao, Leiyin, Shizi, Miaotan, Fanxiang, Renyin, Fonu, Songde, Guangmu, Miaoyan, Cheting, Cheshi, dan Bianshi.

Guan Yu sendiri bukanlah sosok yang tercatat dalam sutra Mahayana sebagai Sangharama. Sangharama sendiri mengandung pengertian sebagai tempat tinggal anggota Sangha, atau lebih umum dikenal sebagai Vihara. Secara etimologi, istilah Sangharama telah dikenal sejak masa kehidupan Buddha. Selain 18 dewa Sangharama yang telah disebutkan di atas, dua tokoh yang dianggap sebagai pelindung utama Sangharama adalah Anathapindika dan Pangeran Jeta, penyokong Vihara Jetavanarama pada masa kehidupan Buddha.

Secara kualitatif, Guan Yu memiliki pengabdian yang setara dengan para pelindung Sangharama, pun karena memiliki komitmen yang besar untuk melindungi lingkungan Vihara, maka tidaklah mengherankan bila kemudian diapresiasi secara khusus oleh Mahayana Tiongkok sebagai Bodhisattva Sangharama. Ada juga yang menyebutnya Bodhisattva Satyadharma Kalama.

Di kalangan Mahayana Tiongkok, Guan yu sering ditampilkan berdiri berpasangan dengan Dharmapala Veda (Weituo Pusa) yang juga merupakan pelindung Dharma. Keduanya mendampingi rupang Buddha atau Avalokitesvara.

Pemujaan Guan Yu Hingga ke Tibet

Pemujaan Guan Yu juga meluas sampai ke Tibet (terutama di aliran Gelugpa dan Nyingmapa). Altar beliau ada di Vihara-vihara Tibet, seperti Mahavihara Tsurphu, sejak kunjungan Maha Ratna Dharmaraja Karmapa V ke Tiongkok atas undangan Kaisar Yong Le. Dulu di Tibet, Guan Yu sebagai Sangharama dikenal dengan nama Karma Hansheng.

Di Tibet dan Mongolia, pemujaan Guan Di (Dewa Guan Yu) diasosiasikan sebagai raja Gesar dari Ling yang terkenal merupakan emanasi guru Padmasambhava. Pengasosiasian tersebut dimulai sejak zaman Dinasti Qing (Manchu). Lobsang Palden Yeshe, Panchen Lama ke 6 (1738-1780 M) adalah yang pertama kali mengatakan bahwa Guan Di adalah Gesar. Oleh karena itu Guan Di Miao (kuil Guan Gong)di Lhasa disebut juga dengan nama Gesar Lhakhang. Ada juga yang percaya bahwa Guan Di dan Gesar adalah inkarnasi masa lalu dari Panchen Lama.

Guan Gong dipandang sebagai Dewa Pelindung Dinasti Qing, sedangkan ajaran Vajrayana Buddhis sekte Gelug adalah agama yang dianut anggota kerajaan Dinasti Qing. Demikianlah Guan Gong (Yang Mulia Guan Yu) dihormati baik oleh kalangan Mahayana maupun Vajrayana (Tantrayana) sebagai Bodhisattva Dharmapala (Pelindung Dharma). Bahkan dalam kepercayaan masyarakat, diyakini Guan Gong kelak akan menjadi seorang Buddha bernama Ge Tian (Ge Tian Gu Fo).

Pemujaan di kalangan umat Tao dan Kong Hu Cu

Pemujaan Guan Yu luas di kalangan umat Tao dan Konghucu sebagai Guansheng Dijun, Guan Gong, dan Guan Di. Penghormatan ini tampak nyata sekali dibanyak kelenteng. Sejak dinasti Song para Taois memuja Guan Yu sebagai Dewata Pelindung Malapetaka Peperangan, sedang umat Konghucu menghormati sebagai dewa kesusastraan Wenheng Dadi.

Pemujaan Guan Gong mulai meluas di kalangan Taois pada abad ke 12 M. Menurut sejarawan Boris Riftin dan Barend J. Ter Haar, pemujaan Guan Yu dikalangan Buddhis lebih awal daripada dikalangan Taois.

Pemujaan ini mulai popular pada masa dinasti Ming. Guan Di dupuja karena kejujuran dan kesetiaannya, pun dipandang sebagai dewa pelindung perdagangan, dewa pelindung kesusasteraan dan dewa pelindung rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan dewa perang yang umumnya dialamatkan kepadan Guan Di, harus diartikan sebagai dewa yang mencegah terjadinya peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Guan Yu yang budiman. Dikalangan rakyat, Guan Yu juga dianggap sebagai Dewa Rejeki-Wuchai Shen.

Bagaimana mungkin Guan Yu sebagai seorang jendral yang sering berperang dan membunuh akhirnya dihormati sebagai Bodhisattva? Meskipun tampak kontradiktif, namun semua ini tak lebih hanyalah masa lalu yang telah sirna setelah disadarkan oleh nasihat Bhiksu suci. Penyadaran ini seperti halnya kisah kehidupan Angulimala dimasa kehidupan Buddha.

Sifat keteladanan Guan Yu

Meskipun pemujaan Guan Yu tersebar di berbagai kalangan, seperti lingkungan ibadah, kepolisian, bahkan hingga kalangan mafia yang konon dikatakan meneladani sikap kesetiakawanan Guan Yu, namun tidak berarti aspek negatif dari dunia mafia lalu dikaitkan dengan sosok Guan Yu. Ini hanyalah cermin kebebasan orang dalam memilih tokoh pemujaan. Terlepas dari hal ini, ada baiknya kita melihat sifat mulia yang tercermin dari sifat mulia yang tercermin dari sosok Guan Yu, yang bisa menjadi teladan bagi kita semua.

  1. patriotis
  2. menjaga norma susila
  3. tidak tergiur akan kesenangan /kenikmatan
  4. tidak silau akan nama dan harta
  5. tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama
  6. tidak melupakan kesetiaan persaudaraan
  7. berjiwa altruis (mementingkan orang lain)

Guan Yu bukan saja telah menjadi sosok yang identik dengan pemujaan spiritual, pun adalah penyatu kultur masyarakat Tiongkok dimanapun berada dan menjadi sebuah maskot tentang semangat pengabdian, kesetiaan, dan sikap lurus.

Sebagai penutup, kita kutip sebuah sajak yang dilantunkan sebagai apresiasi terhadap Guan Yu dalam penuntun kebaktian sore kalangan Mahayana Tiongkok:
“Pemimpin Sangharama, yang mempunyai wibawa dan keagungan menata seluruh vihara. Dengan penuh sujud dan kesetiaan menjalankan Buddha Dharma. Selalu melindungi dan mengayomi Dharma Raja Graha. Tempat suci selalu damai tentram selamanya. Namo Dharmapala Garbha Bodhisattva Mahasattva Mahaprajnaparamita.”






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar