Kamis, 10 Maret 2011

MAKNA BERLINDUNG KEPADA TRIRATNA

Oleh:
Bhikkhu Saddhayano Mahathera

Namo Sanghyang Adi Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahatto Samma Sambuddhassa
Namo Sabbe Bodhisattvaya Mahasattvaya

Bapak ibu dan saudara sekalian,
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada saya, sehingga pada hari ini saya bisa membicarakan dharma bersama saudara sekalian. Dan pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan membicarakan tentang makna berlindung kepada Triratna. 

Saudara sekalian,
Sering kali kita kabur sekali Pergi berlindung kepada Triratna, sebab banyak di antara umat Buddha yang walaupun sudah lama menjadi umat Buddha, tetapi tidak tahu makna berlindung itu. Oleh karenanya banyak umat Buddha yang cara berpikirnya tidak buddhistik. 

Menjadi umat Buddha tidak cukup mengaku bahwa ia telah beragama Buddha. Tetapi semestinya umat Buddha juga cara berpikirnya harus buddhistik . Artinya apa saudara? artinya orang yang mengaku beragama Buddha semestinya didalam menyikapi masalah, didalam memandang hidup dan kehidupan, dan di dalam melihat perubahan-perubahan yang terjadi semua dilihat dengan cara yang benar yaitu berlandaskan Buddha dharma. 

Untuk bisa memiliki pikiran dan cara berpikir buddhistik itu, orang harus tau ajaran Buddha. Jadi kalau umat Buddha tidak tahu apa yang Buddha ajarkan maka tidak mungkin orang bisa berpikir buddhistik atau tidak mungkin bisa menyikapi masalah kehidupan secara buddhis. 

Oleh karena itu setiap umat Buddha mempunyai tanggung jawab yang sama harus memahami dan mau mengerti apa sih yang sang Buddha ajarkan terutama dalam menyikapi masalah-masalah kehidupan. 

Agar bisa menerima ajaran Buddha, orang harus terlebih dahulu menyatakan berlindung kepada Triratna. Mengapa harus pergi berlindung? Sebab pergi berlindung atau menyatakan berlindung adalah merupakan jalan masuk terhadap ajaran. Artinya kalau anda ingin dengan mudah bisa menerima ajaran buddha, dimulai dari anda menyatakan berlindung terlebih dahulu. 

Sebab kalau anda tidak mengakui keberadan Buddha dengan segala keistimewaan dan keluhurannya maka anda tidak akan bisa menerima apa yang disampaikan Buddha dan para bhikkhu. Maka di katakan pergi berlindung merupakan jalan masuk ke dalam ajaran. 

Jadi jelas tahapan-tahapan yang harus kita lalui. Kalau anda ingin berpikir secara budhistik maka anda harus tahu ajaran, kalau anda ingin mengerti ajaran maka anda harus berlindung kepada Triratna. Tradisi ini atau memohon tisarana ini bukan akal-akalan para bhikkhu supaya viharanya ramai, tidak seperti itu. Tapi ini memang tradisi yang dianjurkan yang dimulai oleh sang Buddha sendiri. Dimana ketika Sang Buddha masih hidup Beliau mengutus kepada para bhikkhu yang telah mencapai kesucian yang jumlahnya 61 tempatnya di taman rusa isipathana, di Benares. Buddha mengutus bhikkhu tadi untuk menyebarkan dharma, dharma ini disebarkan tidak lain untuk kasih sayang kepada semua. Jadi ketika Buddha mengutus bhikkhu ini, bhikkhu dengan kasih sayang mengajarkan dharma. Supaya orang mau menerima ajaran dharma dari sang Buddha itu, maka mereka harus memulai dengan cara pergi berlindung, mengakui keberadaan Buddha, Buddha itu ada dan Buddha pantas dijadikan tempat perlindungan. Apa yang dimaksud dengan pergi berlindung saudara? Apa sekedar mengucapkan Tisarana, ternyata tidak cukup. 

Secara formal kita mengakui, berlindung pada Triratna. Yang lebih penting adalah anda harus tahu makna daripada pergi berlingung. Pergi berlindung adalah pergi mencari perlindungan, yaitu pergi untuk mengahalau, menyingkirkan dan menghentikan rasa takut, kesedihan dan berusaha mencegah agar tidak terlahir di alam yang rendah atau alam yang sengsara. Jadi yang dimaksud pergi berlindung atau dengan kata lain, anda mengaku umat Buddha berlindung pada Triratna tidak lain adalah karena saudara berusaha menghalau, menghentikan, kesedihan, rasa takut dan kekhawatiran yang selama ini menghantui kehidupan saudara. Jadi diharapkan, dengan saudara berlindung anda memilik kesempatan untuk membuang segala masalah yang ada.
Yang kedua; yang dimaksud pergi melindangkan pandangan salah menuju pandangan salah, setiap umat Buddha setiap kita yang pergi berlindung untuk meninggalkan pandanga keliru. Misalnya pandangan kalau anda percaya Buddha pasti masuk surga, penderitaan, kalau banyak sembahyang nanti masuk surga itu juga salah, pandangan bahwa roh itu kekal, juga pandangan lain yang tidak memang tidak sepaham dengan apa yang sang Buddha ajarkan ini harus dibuang. Nanti saya akan jelaskan lebih rinci makna dari pergi berlindung tadi dan mengapa pandangan keliru itu harus dibuang ,mengapa hal-hal tadi dikatakan pandangan keliru, pandangan benarnya seperti apa. 

Yang tidak kalah penting adalah bahwa saudara pergi berlindung tidak lain adalah pergi dengan pengertian benar dan keyakinan yang kuat untuk membuang kekotoran batin. Kalau kita masuk menjadi umat Buddha dalam rangka kita membuang sifat buruk yang ada di dalam batin kita. Menjadi umat Buddha tidak lain adalah berusaha menjadi manusia yang berbudi luhur dengan membuang kekotoran-kekotoran batin. 

Selama ini banyak umat Buddha yang merasa kecewa setelah bertahun-tahun merasa tidak pernah dilindungi, merasa setelah menjadi umat Buddha malah banyak masalah akhirnya kecewa dan mengatakan agama Buddha itu tidak cocok. Apakah betul seperti itu? Mereka yang banyak masalah itu apa karena buddhanya yang tidak manjur, tidak sakti, atau karena apa? Ternyata salah satunya karena banyak diantara umat Buddha yang tidak tahu apa yang dimaksud berlindung kepada Buddha, tidak tahu apa maksudnya dia beragama Buddha.

Nah, Saya ingin menjelaskan tentang berlindung kepada Triratna dengan pengertian benar. Mengapa kita berlindung? ada apa? Mari kita lihat pada realita keseharian kita, bila mana kita kehujanan kita mencari tempat yang aman dan kokoh untuk berteduh. Bila itu dilakukan maka anda akan terbebas dari resiko yang disebabkan oleh hujan, Bila hujan tidak kehujanan, dan jika panas tidak kepanasan sebab anda telah mencari tempat untuk berteduh. Demikian pula kita saudara, di dalam kehidupan kita ini banyak masalah. Oleh karena itu jika kita ingin menyelesaikan masalah dengan baik, anda bisa mengatasi penderitaan yang dirasakan maka harus pergi berlindung, mencari tempat yang bisa membuat masalah-masalah itu bisa diselesaikan dan dihadapi sehingga menemukan jawaban. Sehingga kita bisa mengatasi kehidupan ini dengan baik

Saudara sekalian
Kita pergi berlindung tidak lain karena kita ingin menyelesaikan masalah kehidupan kita dengan cara yang tepat. Mengapa harus berlindung kepada Buddha? Ini banyak orang bertanya, kenapa tidak berlindung kepada dewa? Dll. Persepsi ini menjadi perlu anda ketahui, baik pengertian tentang dewa, tuhan, kenapa harus berlindung kepada Buddha bukan kepada dewa dan lain-lain. 

Saudara sekalian
Dalam agama Buddha dewa adalah salah satu jenis makhluk yang sama dengan kita, tetapi secara kualitas batin dia lebih tinggi karena hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan dan tinggal di alam surga. Seperti bahasa lain, sepertu para malaikat memiliki keistimewaan. Jadi dewa ini adalah makhluk luhur yang hidupnya penuh kebahagiaan. Para dewa juga punya kekurangan, mereka ada di alam kehidupan yang tidak kekal dan yang mana kualitasnya juga bisa turun. Oleh karenanya kalau anda berlindung kepada dewa maka anda tidak akan mencapai pembebasan. Bahkan diceritakan Sang Buddha sendiri pergi ke alam surga dan bahkan para dewa belajar dari sang Buddha tentang banyak hal, tentang berkah dan tentang bagaimana untuk mencapai pembebasan. Dari ini, Mengapa kita tidak berlindung kepada dewa? Karena dewa juga punya kekurangan, karena dewa hanya punya kelebihan tertentu yang itupun bisa diraih oleh manusia.

Kemudian juga mengapa tidak berlindung kepada Tuhan? Nah, ini perlu dijelaskan. Pengertian Tuhan dalam agama Buddha sangat beda dengan agama lain. Sebetulnya kalau anda membaca literature agama Buddha, buku-buku, sumber-sumber dalam agama Buddha, tidak ada yang secara khusus membahas tentang Tuhan termasuk dalam Aganna Sutta, Brahmajala Sutta, Adi Budha, Sanghyang Kamahayanikan disana tidak secara khusus membahas tentang keTuhanan sebab ajaran ketuhanan bukan ciri khas ajaran Buddha. Tetapi bukan berarti agama buddha tidak percaya adanya tuhan. 

Yang perlu diketahui adalah bahwa Tuhan dalam agama Buddha tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tuhan tidak bisa digambarkan dengan gambar apapun, tidak bisa dilukiskan. Semakin dijelaskan maka tuhan semakin kecil artinya. Oleh karena itu, dengan bijaksana mengatakan setiap pertanyaan yang menyangkut ketuhanan itu Buddha langsung menggiring dan mengarahkan kita agar lebih focus pada bagaimana menghadapi realita hidup yang menderita dan sengsara kemudian bagaimana kita mengatasi, ini yang lebih penting. Mengapa? Ada sebuah perumpamaan; Ada seorang pemuda kena panah yang beracun, menanyakan siapa yang memanah dia, namanya apa, suku apa? Kemudian orang bijaksana mengatakan; tidak penting siapa yang memanah kamu, yang lebih penting adalah obati dulu luka kamu. Sebab dengan cara seperti itu, kamu tidak kehilangan kesempatan dan waktu untuk mencari siapa sesungguhnya yang memanah kamu, ini lebih penting. Sebab kalau anda di dorong oleh nafsu ingin tahu siapa yang memanah kamu, sementara racun terus bekerja maka belum tahu siapa yang memanah, anda keburu mati. 

Demikian kita saudara, kita tidak perlu pusing siapa tuhan saudara, seperti apa tuhan, tetapi yang lebih penting adalah anda tahu bahwa anda sekarang punya masalah, anda harus tahu masalah ada sebabnya, dan masalah itu ada jalan keluarnya dan masalah itu bisa diselesaikan, ini yang penting. 

Mengapa? sebab, kalau anda sudah bisa mengatasi masalah tadi maka anda akan tahu tuhan yang sesungguhnya, bukan tuhan yang digambarkan manusia secara lisan. Sebab semakin dijelaskan maka semakin kabur dari makna yang sesungguhnya. Kadang-kadang anda melihat Tuhan yang seram karena tuhan suka menguji, suka murka, kalau saudara ingat tuhan jadi takut. Kalau anda takut, maka anda akan melakukan segala sesuatu bukan dengan kesadaran tetapi dengan ketakutan. 

Kadang-kadang anda merasa Tuhan tidak adil, kenapa? karena anda miskin, orang lain kaya. Anda pintar orang lain bodoh. Kenapa tuhan nampak tidak adil? Karena digambarkan tuhan adil, ketika dikatakan tuhan adil malah jadi tidak adil kenapa? Karena banyak kepincangan-kepincangan. 

Maka dalam agama Buddha bagaimana anda menghayati dan menerapkan sifat-sifat tuhan. apa itu? Yang lebih penting bagi kita adalah bagaimana mengatasi penderitaan, mengembangkan paramita, siapapun yang berusaha memiliki dan mengembangkan cinta kasih, kasih sayang, simpati dan keseimbangan batin maka saudara akan menikmati hidup ini dengan lebih baik.

Memang, agama Buddha tidak pernah menganjurkan dan tidak pernah melarang orang mau percaya atau tidak percaya pada tuhan, orang mau percaya atau tidak percaya pada Buddha. Karena intinya orang mau percaya tuhan, mau percaya Buddha intinya harus sadar. Kalau anda percaya Buddha jadi sadar ya silahkan. Dan kalau anda percaya Buddha jadi sadar ya silahkan sebab intinya hidup ini harus sadar. 

Tetapi yang saya alami, saya semakin mengenal Buddha lewat ajaran-ajarannya saya semakin sadar. Saya sadar banyak kekurangan maka saya harus banyak berbuat baik, saya sadar bahwa saya punya tanggung jawab sebagai manusia maka saya harus berjuang untuk mengatasi itu, dan banyak sekali alasan-alasan mengapa kita harus berlindung kepada buddha. 

Maka pada saat saya ditanya kenapa saya harus berlindung kepada Buddha? Dulu saya pernah percaya tuhan, karena tuhan digambarkan seperti itu jadi saya juga ikut salah mencernanya. Waktu saya percaya tuhan saya berani sama orangtua, ketika saya percaya tuhan saya tega membunuh. Kenapa saya jadi tega membunuh dan melawan orangtua? Padahal tuhan penuh kasih?, sebab ada kata-kata; bahwa alam semesta beserta isinya adalah untuk manusia, tuhan mencipta untuk manusia. 

Maka setelah kita tahu bahwa binatang untuk manusia, maka kalau anda memotong sapi, ayam dan apa saja kalau itu seijin tuhan maka sudahlah anda lakukan saja. Dan tanpa disadari, sifat buruk seperti; kejam, benci, tega itu terbentuk. 

Maka secara perlahan juga saudara menjadi orang yang tegaan. Kemudian pada saat saya dulu kenal tuhan dalam arti percaya tuhan. Karena tahu orangtua saya tidak seiman, maka saya juga berani membantah ketika disuruh ke vihara tidak mau, dan saya bilang; agama itu hak asasi lho bu, itu urusan batin orangtua tidak bisa memaksa. Orangtua tidak bisa apa-apa dan hanya bisa bersedih. 

Misalnya kita disuruh membantu mengirim makanan ke vihara, kita merasa malu. Karena mencerna salah tentang tuhan tadi, maka salah pula kita menerjemahkan dalam sikap sehingga kita menyakiti orangtua. Banyak kasus yang terjadi, banyak orang yang dulu kenal Buddha sayang orangtua, setelah kenal tuhan malah menjadi tega kepada orangtua. Dari kecil disayang mama, diajarkan baik dan buruk, disekolahkan, dikasih susu dan dikasih makan oleh orangtua. Begitu kenal tuhan jasa orangtua hilang semua, bahkan orangtuanya meninggal tidak mau tancap hio karena dia merasa itu dilarang tuhan. Dia melihat orangtuanya sendiri hanyalah melihat bangkai, bukan orangtuanya sendiri. 

Jadi bapak ibu saudara sekalian
Kalau saya mengenal tuhan malah menjadi tega sama orangtua dan tega sama yang lain saya lebih baik mengundurkan diri. Itu saya lakukan setelah saya mengenal ajaran Buddha saya lebih mengasihi yang lain, dan ternyata dalam pandangan Buddha dan orangtua, dan juga makhluk yang lain pantas kita hargai, pada dasarnya setiap makhluk ingin bahagia. Bahkan binatang pun yang sering kita sakiti sebenarnya ingin bahagia. Anda akan menghargai mereka kalau anda punya pikiran bahwa; Binatang pun pantas untuk bahagia. Anda punya pandangan seperti itu kalau anda mengikuti ajaran Buddha. Nah inilah pentingnya kita berlindung kepada Buddha. 

Saudara sekalian
Kalau ada orang lain yang mampu dengan berlindung kepada tuhan dan jadi sadar ya silahkan. Tapi kita berlindung pada Buddha adalah cara yang tepat untuk bisa mengenali tuhan yang sesungguhnya. Bukan dalam arti nama tapi tuhan dalam arti sifat yang penuh kasih. Mestinya kalau orang percaya tuhan harusnya penuh kasih dan bukan kejam. Inilah alasan saudara mengapa berlindung kepada Buddha dan bukan kepada yang lain, dan alasan lain nanti akan saya jelaskan dalam sutra yang dijelaskn disini termasuk buddha nussati. 

Tetapi sebelum masuk kesana saya ingin bacakan sebuah pengertian, supaya anda tidak salah mengerti tentang Buddha. Dalam mahanidesa sutra ayat 145:7 dikatakan bahwa apa itu Buddha? Buddha bukan nama yang diberikan oleh seseorang. Buddha adalah sebuah predikat, julukan yang menunjukkan gambaran realitas tentang orang yang telah sadar, yang cerah, bersih dan suci. 

Jadi Buddha itu predikat menunjukkan kualitas sesorang yang sadar, yang suci, yang bersih maka anda juga akan belajar menuju kesana. Anda akan menjadi cerah karena anda belajar dengan orang cerah. Banyak orang menjadi buruk bukan karena kebiasaan buruk, dan tabiat buruk, karena dia ada di lingkungan yang buruk. Kalau dia terbiasa bergaul di lingkungan yang buruk, kebiasaan tidak sopan, menghinda, mencela itu akan mewarnai keseharian dia. Tapi kalau anda berlindung kepada Buddha anda sedang menuju jalan dan kondisi yang luhur. Maka diharapkan dengan berlindung pada buddha anda akan bisa seperti Buddha menjadi manusia yang pemaaf, penuh kasih, penyayang dan sebagainya. 

Dijelaskan juga bahwa Buddha memiliki sifat luhur yang mana sifat luhur itu juga bisa dicapai setiap manusia. Buddha itu bukan monopoli Siddharta Gautama, semua orang bisa cuma prosesnya lama. 

Kalau Buddha itu karena sering melatih dari satu kehidupan ke Kehidupan selanjutnya, maka sekarang lebih mudah. Sama seperti anda, setiap tahun anda Les bahasa inggris, tahun besok les lagi, anda akan lebih baik. Anda akan lebih cepat mengikuti karena telah dikondisikan dari waktu sebelumnya. 

Buddha adalah manusia suci yang disebut Arahat (yang maha suci bebas dari segala noda), samma sambuddho (telah mencapai pencerahan sempurna/manusia yang sudah cerah), vijja caranasampanno(sempurna pengetahuan dan tindak tanduknya), Buddha dikatakan sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya adalah; Buddha dikatakan sempurna dalam hal pengetahuan tentang spiritual. Jadi kalau Buddha tidak mengerti sempoa biasa itu, Buddha sempurna dalam hal pengetahuan batin. 

Dalam hal pengetahuan, artinya jalan yang ditempuh oleh Buddha itu sempurna kalau tidak sempurna beliau tidak akan mencapai nirvana. Beliau juga pengenal segenap alam, jadi alam-alam kehidupan yang waktu itu belum terungkap sang Buddha telah pahami sang Buddha lihat sendiri dengan batin, dan ternyata beliau ungkapkan ternyata yang hidup itu bukan cuma manusia. 

Banyak kehidupan lain yang kalau ditulis dalam tek pali itu ada 31 alam kehidupan. Jadi termasuk alam surge itu tidak cuma satu namun banyak sekali. Salah satunya kalau saya sebutkan; surga Tusita, Tawatimsa, Catumaharajika, Alam Brahma, Suddhavasa dan lain-lain. Jadi alam bahagia tadi berlapis-lapis karena pencapaiannya berbeda-beda. Yang masuk surga catumaharjika banyak melakukan kebajikan, beramal dan melaksanakan sila. Yang terlahir di alam brahma disamping melaksanakan sila dengan baik dia mencapai Jhana tertentu dalam meditasi. Jadi orang baik, sama-sama baik, yang satu mencapai jhana dan yang satu tidak mencapai jhana surganya beda, itu namanya adil. Kalau surganya sama itu namanya tidak adil. 

Jadi Buddha mengenal alam-alam kehidupan. Pembimbing manusia tiada taranya, Buddha dalam membimbing manusia luar biasa, untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi. Buddha bukan guru para manusia tetapi dewa juga berguru, belajar. Sang Buddha dalam satu kesempatan selama 3 bulan mengajarkan abhidharma di Surga Tawatimsa. 

Jadi buddho; yang sadar. Jadi manusia yang sadar tidak mungkin akan lengah, telah sadar tidak mungkin kena bencana, dan batinnya stabil. Bhagava; yang patut dimuliakan. Jadi bapak ibu sekalian mengapa kita berlindung kepada Buddha? Alasannya karena Buddha mempunyai sifat yang luhur kalau saudara berlindung kepada orang yang mempunyai sifat luhur seperti ini maka saudara pelan-pelan memiliki kemuliaan seperti buddha. 

Mengapa berlindung kepada dharma? Karena dharma akan membimbing saudara untuk bisa memahami kebenaran. Karena dharma ini langsung diajarkan oleh Buddha. Dharma adalah cermin kata-kata Buddha, kalau Buddha suci pasti kata-katanya suci. Kalau yang diikuti ajaran suci maka anda akan menjadi suci, logikanya seperti itu. Dan dharma ini mempunyai keistimewaan, kekuatan dharma bisa menghalau ketakutan, bisa membuat manusia hatinya terang, dan sebagainya.

Seperti yang dijelaskan dalam Dhammanussati, bahwa dharma itu berada sangat dekat. Jadi dharma dalam arti sunyata (kebenaran) ada di dekat kita. Jadi kalau anda belajar dharma secara formal mungkin harus keluar negeri, tetapi belajar dharma dalam arti kebenaran ada dimana-mana. 

Misalnya anda melihat gunung meletus berarti anda sedang belajar hukum sebab akibat, anicca, tentang perubahan bahwa gunung tidak kekal, dan bisa meletus. Kalau anda sedang melihat pengemis, anda sedang dharma bahwa ada orang miskin ada orang kaya, ada perubahan, ada kasih sayang dan sebagainya. Jadi dharma itu sangat dekat dengan keseharian kita. 

Akaliko; tidak lapuk oleh waktu. Jadi, dari dulu dharma itu tidak berubah secara hakikat, bahwa inti kebenaran itu selalu sama yaitu dharma indah pada awal, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya. Artinya dari dulu orang yang mempraktekkan dharma mendapatkan manfaat dan berkah yang luar biasa.

Opanayiko; Menuntun ke dalam batin. Apa maksudnya? Membuat saudara menjadi orang yang memiliki kemampuan atau kekuatan untuk menjadi manusia yang luhur. Jadi bukan hanya untuk kepuasan intelek, jadi dharma menuntun ke dalam batin. Kalau ajaran-ajaran lain seperti Ilmu pengetahuan, fisika, geografi, itu untuk kepuasan intelektual, jadi sifatnya untuk memuaskan pikiran saja. Tetapi kalau dharma, tidak seperti itu. Dia menuntun supaya manusia batinnya menjadi mulia. 

Paccatam veditabho vinnuhiti; Dapat diselami para bijaksana dalam batin mereka masing-masing. Jadi ajaran Buddha itu bisa dibuktikan, diakui dan diselami oleh para bijaksana. Artinya para bijaksana simbol dari orang-orang yang secara spiritual telah sukses tidak akan dikecewakan oleh dharma, karena dharma bisa dibuktikan dan diselami. Orang akan bisa memahami. Jadi kalau orang bijaksana bisa menyelami betapa luar biasanya dharma. 

Banyak ajaran-ajaran yang oleh orang bijaksana diabaikan karena tidak berguna dan tidak menuntun ke dalam batin dipelajari juga tidak bermanfaat bagi kemajuan spiritualnya. Dharma bisa diselami oleh para bijaksana. Ini pentingnya mengapa saudara berlindung kepada dharma, karena alasan-alasan yang luar biasa ini. 

Kemudian yang terakhir, kenapa anda harus berlindung kepada sangha?. Sangha yang dimaksud disini adalah baik sangha yang sudah mencapai kesucian (ariya sangha), atau sangha yang belum mencapai kesucian (samuti sangha). Jadi anda bukan berlindung kepada bhikkhu tapi kepada sangha atau pesamuhan suci. Kalau anda berlindung kepada sangha maka anda akan mendapatkan bimbingan ajaran yang suci karena sangha adalah pewaris dharma, pelaksana dharma. Yang diajarkan oleh bhikkhu sangha adalah ajaran tentang dharma. Anda tidak akan diajarkan bagaimana melet, bagaimana nyantet orang, bagaimana membunuh orang dari jarak jauh, itu tidak mungkin. 

Karena yang diajarkan sangha adalah ajaran suci, yang diajarkan bagaimana supaya meditasi tenang, bagaimana kehidupan rumah tangga menjadi harmonis, bagaimana merawat anak yang baik. Jadi, kalau anda berlindung kepada sangha, maka anda akan mendapatkan petunjuk-petunjuk yang indah untuk kehidupan ini.
Nah, sangha ini juga mempunyai sifat-sifat luhur yang dijelaskan dalam sanghanussati. Bahwa sangha siswa sang bhagava telah bertindak baik, jadi sangha telah mencontohkan dan telah menjalankan tindakan yang baik. Siswa sang Buddha, terutama ariya sangha yang suci telah memberikan contoh yang baik. Sangha telah bertindak lurus, jalannya lurus tidak berbelok-belok. Sangha telah bertindak benar, jadi yang dilakukan sesuai dengan dharma. Bertindak patut, tidak menyimpang. 

Kemudian yang tidak kalah penting, karena sangha merupakan kumpulan para suciwan mereka patut mendapatkan persembahan, tempat bernaung, penghormatan, dan bisa dikatakan sebagai ladang menanam jasa yang tiada taranya, inilah keluhuran-keluhuran sangha.

Jadi bapak ibu saudara sekalian
Inilah alasan-alasan kenapa saudara tidak berlindung kepada yang lain, tetapi berlindung kepada Buddha, dhamma dan sangha. Karena inilah perlindungan yang tepat sebagai mana anda niat masuk ke agama buddha ingin membuang kekotoran batin, pandangan keliru, terbebas dari kelahiran sengsara setelah mati, anda ingin bahagia sebelum mati, maka inilah tempat yang cocok untuk mewujudkan impian saudara tadi. Sebagai tambahan; Buddha itu orang yang bijaksana, bukan sekedar orang baik tapi bijaksana. Maka berlindung pada Buddha bukan berarti menyerahkan nasibnya kepada buddha, kita suka salah. Kalau anda masuk agama Buddha merasa sudah dijamin masuk surga, tidak. Kalau anda masuk agama Buddha baca tisarana, tetapi tetapi ngomong sama istri kasar, masih suka menipu, mencuri, gak setia kepada pasangan, surganya tidak mungkin bisa terwujud. Jangankan nanti sekarang saja anda sudah menciptakan masalah. Yang dimaksud berlindung kepada Buddha bukan seperti itu.

Jadi Buddha peranannya adalah; membantu saudara untuk menunjukkan jalan, membimbing langsung, memberikan rute-rute, tanda-tanda mana yang boleh dan tidak. Jadi Buddha menciptakan kondisi, mengkondisikan saudara supaya anda mau menjalankan dengan baik. 

Ibarat naik gunung saudara, Buddha itu langsung jalan di depan dan Buddha sudah bolak-balik ke puncak, sudah tau rutenya, jam berapa biasanya turun kabut, mana jurang, mana jalan yang lebih enak, sang Buddha sudah tahu semua. Maka Buddha kasih petunjuk dan rambu-rambu nah kita mengikuti dibelakang. 

Tugas Buddha seperti itu, memandu dan membimbing di depan bukan menggendong saudara, jadi kalau anda ikut buddha bukan berarti digendong. Kenapa Buddha tidak menggendong saudara? Karena Buddha bijaksana, Buddha ingin kita semua tahu, dan mau merasakan bagaimana nginjak krikil naik gunung gimana rasanya, kalau dipersimpangan jalan kita bingung rasanya seperti apa. Kalau turun kabut, gelap bagaimana? Dan saudara kalau sudah mencapai puncak akan merasakan keindahan, mengapa? Karena anda sudah merasakan susahnya perjuangan anda, ada kabut dan sebagainya. Dan saudara tidak takut, kenapa? Karena di depan ada buddha yang membimbing saudara, tidak akan takut salah karena sudah pengalaman. Tapi kalau saudara naik gunung digendong langsung oleh sang Buddha, maka walaupun gunungnya tinggi anda tidak akan pernah merasa capek. Karena anda tidak merasa capek, anda pergi dari lembah sampai ke puncak rasanya sama saja. Anda tidak menghargai hidup, dan itu tidak akan mungkin terjadi. Jadi kalau saya tidak percaya, anda akan bahagia hanya dengan menyerahkan nasibnya kepada yang lain. 

Jadi bapak ibu dan saudara sekalian
Kalau anda harus bekerja, baik pada isteri, sembahyang, meditasi dan anda harus melakukan itu semua itu semata-mata karena Buddha ingin menunjukkan arti hidup. itu bukti bahwa Buddha bijaksana. Bukan Buddha kejam, bukan Buddha tidak punya kasih sayang, kalau Buddha memang luar biasa, mengapa kita harus mengalami susah, tidak seperti itu saudara. Ini harus di pahami dengan benar.

Inilah kurang lebih makna berlindung kepada Triratna, dengan alasan-alasan yang telah saya sebutkan. Mudah-mudahan setelah kita mengerti ini semua anda akan bisa melihat kehidupan dan masalah dengan pandangan yang benar. Sehingga anda mempunyai kemampuan, kekuatan dan keberanian menghadapi kehidupan ini dengan indah, tidak dengan ketakutan.

Sehingga dengan menghadapi masalah-masalah itu sendiri, sekarang anda bisa dikatakan berpikir secara buddhistik. Artinya anda tidak lagi melihat masalah itu dengan kebodohan. Kalau pulang ke rumah, didepan pintu ada kembang, lalu muncul rasa takut, wah ini ada yang sant├ęt. 

Jadi pikirannya tidak buddhistik lagi, padahal setelah anda pulang ke rumah anda nginjek kembang tidak masalah, anda sakit perut bukan karena nginjek kembang. Kita jangan jadi bodoh, tokonya bangkrut dan sebelah laris langsung salahin, mungkin pelayanannya kurang, mungkin tokonya jenis yang dijual sedang sepi. Tetapi intinya kita menjadi umat Buddha itu supaya tidak mudah menyalahkan orang lain tetapi coba kita lihat sebab-sebabnya itu secara logis dan realita. Inilah yang dimaksud berpikir buddhistik melihat segala masalah dengan benar.

Jadi bapak ibu saudara sekalian
Mudah-mudahan ada gambaran yang jelas buat anda sehingga kita semua menjadi sadar, menghargai hidup. Kita sadar bukan karena takut, kita sadar karena tahu ini adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Menjadi manusia yang beruntung tidak lain melakukan yang terbaik. 

Semoga semua diberkati kebahagiaan.
Namo buddhaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar